Main di Semarang (part 1)

Desember 2019 lalu aku pergi ke Semarang tanpa merencanakan jauh-jauh hari. Perjalanan ini terjadi karena aku mau datang ke acara Patjarmerah. Awalnya aku ga yakin akan datang ke sana, tapi ketika lihat pengumuman Papermoon Puppet Theatre akan bikin pertunjukan "Secangkir Kopi dari Playa" dalam rangkaian Patjarmerah Semarang, fix aku langsung memutuskan untuk berangkat. Saat itu juga aku browsing harga tiket kereta, hotel, dan lain-lain, tapi ga langsung pesan karena masih memastikan dulu aku dapat tiket nonton yang hari apa.
Ketika sudah dapat tiket nonton (saat itu langsung buka aplikasi patjarmerah, pesan dan bayar), langsung lanjut pesan tiket kereta, hotel, dan mengajukan cuti. Hahahaha. Iya, seniat itu perjalananku, sampai cuti segala. Sampai ada orang kantor yang bilang: ke Semarang mau nonton Susan? *karena ketika aku bilang pertunjukan boneka yang terbayang oleh mereka adalah Susannya kak Ria Enes.

Untuk perjalanan dari Surabaya (stasiun Pasar Turi) aku naik kereta ambarawa express menuju Semarang (stasiun Tawang) dan aku merekomendasikan kereta ini. Dengan harga yang tergolong murah (Rp 90.000,00) dan kelas ekonomi, kita bisa menikmati perjalanan yang nyaman selama 5 jam dengan kursi yang empuk. Awalnya aku mengira kursi dengan nomor kecil (1-9) akan selalu menghadap ke arah depan pada perjalanan Surabaya - Semarang. Tapi ternyata bulan lalu temanku ke Semarang dan teori ini tidak berlaku. Jadi, tergantung keberuntungan saja.

Stasiun Tawang
Sampai di Stasiun Tawang, aku berjalan ke luar stasiun menuju ke Polder Tawang untuk memesan ojek online menuju ke hostel. Titik penjemputan untuk ojek online di stasiun Tawang ini memang di area polder, di sana kalian akan lihat banyak bapak berjaket hijau sedang mangkal.

Polder Tawang

Area Polder Seberang Stasiun
Hostel tempatku menginap di area ruko Pekojan. Sebenarnya bisa juga dijangkau dengan jalan kaki dari stasiun, tapi aku memilih menggunakan ojek online saja karena barang bawaanku lumayan banyak dan berat. Saat di perjalanan menuju hostel, aku sempat bertanya tentang titik penjemputan ojek online di area kota lama Semarang, tapi katanya sih bebas kalau di sana, aman-aman saja. Baru berbincang sebentar, bapak ojek onlinenya langsung bilang: dari Surabaya ya mbak? Logatku sudah segitu kentalnya sampai kentara ya.

Sampai di hostel aku langsung check in, nama hostelnya Griya Pantes Pekojan. Saat itu aku sudah pesan dengan aplikasi online. Setelah meletakkan barang-barang di kamar hotel, aku pergi cari makan. Malam itu aku berencana makan nasi gandul pak Memet. Perjalanan dari hostel ke tempat makan hanya 10 menit dengan berjalan kaki, jadi aku jalan saja dengan mengandalkan google maps. Ternyata jalan dari hostel menuju nasi gandul ini cukup gelap dan harus lewat gang kecil gitu. Sempat beberapa kali di-pssst-in laki-laki saat berpapasan, kalau istilah kerennya sih catcalling. Agak sebel kalo harus menghadapi hal ini, dan ternyata ga cuma di Indonesia, menurut temanku yang tinggal di Eropa, di beberapa negara lain juga sering terjadi catcalling lho, ga paham dengan kesenangan macam apa yang mereka dapatkan dengan melakukan hal itu.

Oke, kembali ke topik nasi gandul. Jadi sebenernya nasi gandul itu apa sih? Kenapa namanya nasi gandul? Emang cara makannya gimana? Digantung pake tali kayak lomba makan kerupuk?
Ternyata kenampakannya seperti ini

Nasi Gandul Pak Memet
Terlihat sangat normal ya, ga ada kesan 'gandul-gandul'nya sama sekali.
Jadi ternyata, dulu nasi gandul itu dijual menggunakan pikulan. Satu pikulan berisi kuah gulai daging sapi, satu pikulan berisi nasi putih. Ketika penjualnya berjualan sambil membawa pikulannya, pikulannya akan bergerak gundal-gandul seirama dengan langkah penjualnya, jadi makanan ini disebut nasi gandul. Tapi di era sekarang, nasi gandul dijual di satu tempat, jadi pikulannya tidak perlu dibawa berkeliling lagi.
Kalau dari segi rasa, menurutku rasanya seperti gulai biasa tetapi cenderung manis. Untuk pilihan isinya, bisa dipilih sesuai selera, ada daging dan berbagai jeroan sapi yang bisa dipilih. Tapi jangan terlalu malam ya kalau ke sini, karena makin malam pilihannya semakin sedikit karena sudah banyak yang habis.

Pikulan Nasi Gandul

Menu Nasi Gandul Pak Memet
Saat lagi makan nasi gandul ini, aku bertemu dengan teman baru, solo traveler juga dari Bandung, dan akhirnya kami janjian untuk ketemu lagi di pasar Semawis untuk jalan bareng.
Bersama Muthia di Pasar Semawis
Ternyata pasar semawis itu semacan pasar malam yang ada di daerah pecinan semarang. Berbagai makanan dari yang halal sampai non halal, dari camilan sampai makanan berat dan minuman dijual di pasar ini. Karena sebelumnya sudah kenyang makan nasi gandul, aku akhirnya kami hanya masuk ke sebuah kedai kopi bernama "Waroeng Kopi Alam" dan aku memilih untuk minum cokelat. Iya, cokelat, aku takut sakit maag kalau minim kopi, kan ga asik ya kalo sakit pas liburan.
Menurutku cafenya unik, ada orang yang karaoke di dalam cafe dengan speaker seadanya, disediakan kertas dan pensil warna untuk pengunjung yang mau mewarnai, dan nantinya bisa memajang karyanya di salah satu sisi kedai ini.
Area dalam Waroeng Kopi Alam

Tempat pengunjung memsang hasil warnanya
Es Cokelat Waroeng Kopi Alam

Aku menemukan hal menarik di pasar semawis ini, ada musisi jalanan yang menerma sumbangan via gopay. Bahkan kasih pengamen pun bisa tinggal scan barcode loh, ga ada alasan lagi kalo ga ada uang kecil ya



Hari ke-2 di Semarang, aku memulai hari dengan naik gojek untuk sarapan di Soto Bokoran. Ternyata pas aku ke sana pas banget sotonya baru mulai tutup seminggu.

Akhirnya aku jalan ke nasi ayam bu Pini yang ada di jalan gang pinggir nomor 75. Karena aku ke sana dengan berjalan kaki, aku jadi lebih bisa mengamati sekitar. Berhenti di beberapa tempat, seperti saat melihat rumah dengan desain yang indah ini, aku memutuskan untuk berhenti sejenak

Rumah Kopi Margo Redjo
Yang aku baru tau ternyata rumah ini adalah sebuah roastery. Aku baru tau hal ini saat aku sudah kembali ke Surabaya. Mungkin kalau ada kesempatan ke Semarang lagi, aku mau mampir untuk melihat pabrik kopi sederhana ini.
Selain itu, aku juga sempat melihat klenteng ini. Saat melintas di seberangnya, aku tertarik karena atapnya yang terlihat bertingkat-tingkat
Klenteng Siu Hok Bio
Dan ternyata klenteng Siu Hok Bio adalah klenteng tertua di area ini, sudah berusia 640an tahun.

Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya aku sampai di nasi ayam bu Pini. Ternyata nasi ayam adalah makanan semacam kare ayam dengan tambahan sayur manisa agak pedas, krecek, tahu dan telur rebus. Tempat ini buka setiap hari dari 5.30 pagi sampai 9.30 malam, jadi kapanpun kamu lapar, nasi ayam bu Pini bisa jadi salah satu opsi untuk jadi pemadam kelaparanmu di Semarang.
Area dalam Nasi Ayam Bu Pini

Nasi Ayam Bu Pini

Selesai makan aku lanjut jalan ke destinasi selanjutnya yaitu klenteng See Ho Kiong. Klenteng ini cukup terkenal karena sudah diresmikan menjadi salah satu cagar budaya Semarang dengan bangunan yang masih sama seperti awal pembangunannya (1881), belum dipugar. Di area jalan Sebandaran 1 ini ada banyak sekali klenteng, sehingga jalan dikit nemu klenteng, jalan dikit nemu klenteng lagi. Dalam perjalanan, aku melihat sebuah klenteng yang cukup luas, saat aku bertanya ke orang-orang sekitar apa nama klenteng tersebut, mereka menyebutnya sebagai klenteng "setan".
Klenteng Hwie Wie Kiong (klenteng marga Tan)
Setelah di klenteng See Hoo Kiong dan ngobrol-ngobrol dengan penjaganya, baru aku tahu kalo sebenarnya yang dimaksud di klenteng setan sebelumnya adalah klenteng shi tan (marga tan), ga seserem bayanganku.
Area dalam klenteng See Hoo Kiong
Pintu Masuk Klenteng See Hoo Kiong

Klenteng See Hoo Kiong
Area dalam Klenteng See Hoo Kiong
Area dalam Klenteng See Hoo Kiong

Klenteng ini baru diperbaiki bagian atapnya karena sempat bocor, tetapi untuk bagian klenteng lainnya semua masih asli, sama seperti dulu.
Atap yang baru diperbaiki
Selesai dari situ aku lanjut ke toko oleh-oleh moaci gemini yang ada di jalan kentangan. Di sini juga aku baru tahu kalo moaci gemini itu ada banyak, entah cabang atau franchise, tapi ada beberapa macam moaci gemini tergantung lokasi tokonya. Yang aku datangi di jalan kentangan, sehingga disebut moaci gemini kentangan. Tokonya agak kecil tapi cukup lengkap, ada moaci berbagai rasa, wingko, dan camilan kering lainnya.

Moaci Gemini Kentangan
Selesai dari sana aku melanjutkan perjalanan ke area jalan lombok. Sempat nyasar sih karena salah baca peta, tapi untung akhirnya sadar dan berhasil menemukan klenteng beratap biru yang terkenal ini.
Di area seberang klenteng Tay Kak Sie terlihat menarik karena ada papan berbagai shio yang menuliskan peruntungan tahun itu. Fotonya ga perlu aku tampilkan secara jelas ya, kan aku perginya tahun lalu, peruntungannya sudah ganti :)

Jalan di depan klenteng Tay Kak Sie
Di area depan klenteng ada patung Laksamana Cheng Ho yang berdiri gagah seperti foto di bawah ini.
Patung Laksamana Cheng Ho
Saat di sana aku ga masuk karena sungkan, terlihat beberapa orang yang masuk karena mau beribadah. Aku hanya menikmati dari depan saja.
Di sebelah klenteng juga terdapat penjual oleh-oleh dengan etalase yang berisi moaci gemini. Jadi jika tidak sempat ke kentangan langsung saja ke sini. Karena wisatawan biasanya pasti mampir ke jalan lombok. Selain karena klenteng ini, juga karena ada lunpia gang lombok yang terkenal itu.

Selesai dari sana, aku balik hotel dulu untuk istirahat sebentar dan bersiap-siap untuk acara selanjutnya, patjarmerah dan papermoon puppet theatre. *lanjut di blog post selanjutnya

Komentar